Menyiapkan Generasi Computational Thinking: Workshop Coding Scratch Universitas Dinamika Bersama Siswa SMA

Menyiapkan generasi computational thinking merupakan langkah penting dalam membangun sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan era digital. Saat ini, pada era transformasi digital, kemampuan memahami logika pemrograman (coding) bukan dianggap sebagai keterampilan tambahan, tetapi telah menjadi kebutuhan dasar untuk literasi digital. Mengacu pada standar Kurikulum Pendidikan Nasional yang mendorong penumbuhan nalar kritis, kemampuan pemecahan masalah melalui computational thinking menjadi sangat krusial untuk diajarkan sejak bangku sekolah, terutama sekolah menengah.

Menyiapkan Generasi Computational Thinking: Workshop Coding Scratch Universitas Dinamika Bersama Siswa SMA

Merespons kebutuhan nyata tersebut, Fakultas Teknologi dan Informatika Universitas Dinamika menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat berbentuk “Workshop Coding for Beginners with Scratch”. Kegiatan edukatif yang berlangsung pada Senin, 13 April 2026 ini, memfasilitasi 65 siswa kelas XI dan 4 guru pendamping dari SMA Kristen Dharma Mulya Surabaya.

Menjembatani Teori dan Praktik Melalui Metode yang Menyenangkan

Pelatihan yang dilaksanakan di Laboratorium Komputer Universitas Dinamika, dipandu oleh tim dosen berpengalaman, Ibu Ayuningtyas, S.Kom., M.MT. (Dosen Prodi S1 Pendidikan Teknologi Informasi) dan Ibu Endra Rahmawati, M.Kom. (Kaprodi S1 Sistem Informasi), serta dibantu oleh empat asisten mahasiswa.

Ayuningtyas menyampaikan bahwa :

“materi yang disampaikan dirancang secara taktis agar tidak menyulitkan siswa sebagai pemula, dan menggunakan platform Scratch yang berbasis visual (drag-and-drop). Melalui pendekatan ini, siswa diperkenalkan pada dasar pemrograman tanpa harus khawatir dengan kerumitan sintaksis kode yang kaku”.

Selama tiga jam intensif, para peserta pelatihan diajak mengeksplorasi siklus pengembangan program melalui beberapa proyek interaktif, antara lain: 1) Pengenalan Algoritma: memahami instruksi sistematis sebagai “resep” penggerak komputer. 2) Proyek “Hello Dunia”: praktik dasar interaksi visual antarmuka Scratch. 3) Proyek Walk-Turn-Play Music: Eksperimen menggabungkan gerakan visual dengan elemen audio. 4) Proyek Let’s Math: Membangun algoritma sederhana untuk operasi matematika interaktif.

Lebih dari sekadar pelatihan pengenalan coding, kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana proses pembelajaran teknologi membutuhkan pendekatan pedagogis yang tepat. Mengajarkan konsep pemrograman kepada siswa sekolah menengah tidak cukup hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga membutuhkan kemampuan merancang pengalaman belajar yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa keberadaan Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) semakin relevan dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital.

Mengapa Peran Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Begitu Krusial?

Keberhasilan workshop ini menjadi bukti nyata mengapa program studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) memegang peranan yang sangat strategis di masa depan.

Menjadi Jembatan Transformasi Digital di Sekolah

Mengajarkan teknologi kepada siswa sekolah menengah sebagai generasi muda yang membutuhkan metodologi khusus. Di sinilah kompetensi PTI menjadi penting. PTI tidak hanya mencetak lulusan yang mahir secara teknis dalam ilmu komputer (hard skills), tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan pedagogis untuk menyusun kurikulum teknologi, mendesain media pembelajaran yang interaktif, serta mentransfer pengetahuan digital tersebut secara efektif kepada siswa sekolah menengah.

Melalui sinergi seperti pengabdian masyarakat ini, prodi PTI menunjukkan perannya dalam mempersiapkan ekosistem pendidikan menengah agar siap mengimplementasikan pembelajaran berbasis computational thinking demi mencetak kreator-kreator solusi digital masa depan.


Pendekatan yang menggabungkan penguasaan teknologi dan strategi pembelajaran tersebut ternyata memberikan pengalaman belajar yang positif bagi peserta. Hal ini terlihat dari antusiasme siswa selama mengikuti sesi praktik serta hasil evaluasi yang menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pelaksanaan workshop. Temuan ini sekaligus menjadi indikator bahwa pembelajaran coding dapat diterima dengan baik apabila dikemas secara interaktif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Menyiapkan Generasi Computational Thinking: Workshop Coding Scratch Universitas Dinamika Bersama Siswa SMA

Evaluasi dan Response Positif Peserta

Berdasarkan data kuesioner evaluasi yang telah diolah, kegiatan ini mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari para peserta. Hasil angket menunjukkan indikator keberhasilan yang kuat pada beberapa aspek penting yaitu :

  • Kualitas Materi, mayoritas siswa menilai modul sangat mudah dipahami dan efektif untuk tingkat pemula.
  • Penyampaian Narasumber, pemateri dinilai sangat kompeten dalam menyederhanakan konsep logika yang kompleks.
  • Interaksi dan Respon, Keramahan serta kesigapan tim pemateri dan asisten dalam mendampingi praktik mandiri (hands-on) mendapat respon sangat positif.

Meskipun durasi pelatihan dirasa cukup singkat oleh sebagian peserta karena antusiasme yang tinggi, para siswa memberikan saran konstruktif yang menarik untuk agenda berikutnya, seperti penambahan porsi sesi praktik mandiri serta pengangkatan tema proyek yang lebih spesifik seperti pengembangan game online.

Bagi Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, kegiatan workshop ini menjadi bukti bahwa pendidikan dan teknologi tidak dapat dipisahkan dalam mempersiapkan generasi masa depan. Ketika siswa mulai dikenalkan pada coding, sesungguhnya mereka sedang belajar berpikir kritis, berkolaborasi, dan menciptakan solusi atas berbagai persoalan di sekitarnya. Inilah semangat yang terus diusung oleh Universitas Dinamika: menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Melalui berbagai program pengabdian, riset, dan inovasi pendidikan, Universitas Dinamika berharap semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi inovator, pendidik, dan pemimpin masa depan yang mampu membawa perubahan positif bagi bangsa. (tyas)

Post Views : 11 View
Scroll to Top