Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/ AI) kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda, Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan AI, terdapat satu kemampuan mendasar yang perlu dimiliki setiap pelajar, yaitu kemampuan berpikir komputasional (computational thinking). Berangkat dari kebutuhan tersebut, Universitas Dinamika melalui Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Optimalisasi Prompting dan Tools AI” bagi siswa kelas X SMA Khadijah Surabaya pada Senin, 15 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari kunjungan edukatif yang dilakukan SMA Khadijah ke Universitas Dinamika untuk memperluas wawasan siswa mengenai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial.
Pelatihan dipandu oleh Tri Sagirani, S.Kom., M.MT, Kaprodi S1 Pendidikan Teknologi Informasi, Universitas Dinamika sekaligus Trainer AI Ready ASEAN. Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, siswa tidak hanya diperkenalkan pada berbagai tools AI yang sedang populer, tetapi juga diajak memahami cara berpikir yang menjadi fondasi dari teknologi tersebut.
AI Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Cara Berpikir
Di awal kegiatan, Tri Sagirani mengajak peserta memahami hubungan antara coding, berpikir komputasional, dan kecerdasan artifisial. Menurutnya, AI tidak akan memberikan hasil yang optimal apabila pengguna tidak mampu berpikir secara sistematis dan logis.

Melalui materi Computational Thinking, siswa diperkenalkan pada empat tahapan penting dalam menyelesaikan masalah, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan penyusunan algoritma. Konsep-konsep tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan di era digital yang semakin kompleks.
Suasana pelatihan semakin menarik ketika peserta diajak mengikuti program Hour of Code, sebuah kampanye pembelajaran coding yang diperkenalkan melalui kolaborasi AI Ready ASEAN. Dengan pendekatan berbasis permainan (game-based learning), siswa belajar menyusun instruksi dan logika pemrograman melalui aktivitas yang menyenangkan.

Belajar Prompting: Keterampilan Baru di Era AI
Salah satu materi yang paling menarik perhatian siswa adalah sesi prompting, yaitu teknik memberikan instruksi kepada AI agar menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Dalam sesi ini, peserta belajar bahwa berkomunikasi dengan AI tidak cukup hanya memberikan pertanyaan singkat. Mereka diajarkan langkah-langkah membuat prompt yang efektif, mulai dari menentukan peran AI, memberikan konteks yang jelas, menjelaskan tugas secara spesifik, menentukan format keluaran, hingga melakukan uji coba dan penyempurnaan hasil.
Materi ini membuka wawasan siswa bahwa AI bukanlah alat yang bekerja secara ajaib, melainkan teknologi yang membutuhkan arahan yang tepat agar mampu menghasilkan solusi yang berkualitas.
Dari Ide Menjadi Lagu: AI sebagai Mitra Kreativitas
Puncak antusiasme peserta terlihat saat memasuki sesi praktik penggunaan tools AI untuk menciptakan sebuah jingle lagu. Siswa diajak memanfaatkan ChatGPT/ Gemini/ Claude atau LLM lainnya untuk menyusun lirik lagu berdasarkan tema tertentu, kemudian menggunakan Suno AI untuk mengubah lirik tersebut menjadi musik lengkap dengan aransemen dan vokal.
Melalui praktik tersebut, peserta menyadari bahwa AI tidak hanya dapat membantu pekerjaan akademik, tetapi juga mampu menjadi sarana kreativitas yang menyenangkan. Dalam hitungan menit, sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi karya musik yang utuh.
Bagi banyak siswa, pengalaman ini menjadi momen pertama mereka melihat bagaimana teknologi dapat mendukung proses berkarya dan mengekspresikan gagasan secara lebih luas.
Peran Strategis Pendidikan Teknologi Informasi di Era AI
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan relevansi Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) dalam menjawab kebutuhan pendidikan masa depan. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, sekolah tidak hanya membutuhkan penguasaan teknologi, tetapi juga tenaga pendidik yang mampu mengajarkan teknologi secara efektif dan bermakna.
PTI hadir untuk mencetak lulusan yang tidak hanya memahami teknologi digital dan AI, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis dalam merancang pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dengan kompetensi tersebut, lulusan PTI diharapkan mampu menjadi agen transformasi digital di lingkungan pendidikan.
Melalui kegiatan pengabdian dan pelatihan seperti ini, PTI Universitas Dinamika terus berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus memperkenalkan teknologi sebagai alat untuk berkarya, berkolaborasi, dan memecahkan masalah.
Menyiapkan Generasi yang Tidak Hanya Menggunakan AI, tetapi Memahaminya
Pelatihan “Optimalisasi Prompting dan Tools AI” memberikan pesan penting bahwa masa depan bukan hanya milik mereka yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mereka yang mampu memahami cara berpikir di balik teknologi tersebut.

Melalui kemampuan berpikir komputasional, keterampilan berkomunikasi dengan AI, serta keberanian untuk berkreasi menggunakan teknologi, siswa diajak menjadi generasi yang tidak sekadar menjadi pengguna, melainkan pencipta solusi.
Karena pada akhirnya, teknologi terbaik bukanlah yang menggantikan manusia, melainkan yang membantu manusia mengembangkan potensi terbaiknya. Dan dari ruang pelatihan, benih-benih inovator, kreator, serta pendidik masa depan mulai tumbuh dan berkembang. (Ran)