Flanecos-AR Dibahas dalam FGD, Kolaborasi Peneliti Lintas Bidang Hadirkan Media Pembelajaran untuk Anak ADHD

Flanecos-AR, media pembelajaran berbasis flanel dan Augmented Reality (AR) untuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), memasuki tahapan penting dalam proses pengembangannya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan pada Selasa, 28 Juli 2026, di Grand Darmo Suite Surabaya. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara tim peneliti, Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru Sekolah Luar Biasa (SLB), akademisi, serta berbagai lembaga pendidikan untuk memberikan masukan terhadap pengembangan media pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Selain mendukung inovasi pendidikan, penelitian ini juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education/Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan media pembelajaran yang inklusif, SDG 10 (Reduced Inequalities/Berkurangnya Kesenjangan) dengan memperluas akses pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals/Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi, pemerintah, dan praktisi pendidikan.

Kegiatan FGD merupakan bagian dari penelitian kolaboratif antara Universitas Dinamika dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang diketuai oleh Prof. Dr. Bambang Hariadi, M.Pd. bersama tim peneliti lintas disiplin. Dari Universitas Dinamika, penelitian ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi serta Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual (DKV), dan dari Unesa bergabung Profesor Siti Masitoh dari Pendidikan Luar Biasa. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa inovasi pendidikan memerlukan perpaduan antara keilmuan teknologi, desain, dan pedagogi. Pengembangan Flanecos-AR sendiri dilakukan menggunakan pendekatan ADDIE, dengan FGD menjadi salah satu tahapan penting untuk memperoleh masukan sebelum produk memasuki tahap implementasi dan uji coba yang lebih luas.

FGD dibuka oleh Kepala P3kM

Membuka kegiatan, Vivine Nurcahwati, M.Kom. selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3kM) Universitas Dinamika, menyampaikan bahwa penelitian merupakan salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus terus dikembangkan oleh dosen. Menurutnya, inovasi yang lahir dari penelitian tidak hanya menjadi luaran akademik, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Flanecos-AR, media pembelajaran berbasis flanel dan Augmented Reality (AR) untuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), memasuki tahapan penting dalam proses pengembangannya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Vivine mengapresiasi konsistensi tim peneliti yang terus mengembangkan media pembelajaran inovatif. Ia mengingatkan bahwa pada tahun sebelumnya tim yang sama berhasil menghadirkan Flanatomy, media pembelajaran berbasis kain flanel untuk mengenalkan organ tubuh dan sistem pernapasan kepada peserta didik. Keberhasilan tersebut menjadi fondasi lahirnya penelitian berikutnya yang kini berkembang menjadi Flanecos-AR, sebuah inovasi yang menggabungkan media konkret berbahan flanel dengan teknologi Augmented Reality.

“Kami berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda,” ungkap Vivine.

Sesi 1 : Prof. Dr. Bambang Hariadi, M.Pd

Pada sesi pertama Prof. Dr. Bambang Hariadi, M.Pd. memaparkan hasil penelitian serta rancangan pengembangan Flanecos-AR. Ia menjelaskan bahwa anak dengan ADHD memiliki karakteristik belajar yang berbeda dibandingkan peserta didik pada umumnya. Mereka cenderung membutuhkan pengalaman belajar yang lebih konkret, melibatkan banyak indera (multisensori), mengutamakan aktivitas langsung, serta dikemas melalui pendekatan bermain agar mampu mempertahankan perhatian lebih lama.

Menurut Prof. Bambang, berbagai hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa media konkret mampu meningkatkan perhatian anak, pembelajaran berbasis permainan dapat meningkatkan keterlibatan belajar, sementara pemanfaatan teknologi seperti Augmented Reality (AR) memberikan peluang untuk meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik berkebutuhan khusus. Atas dasar itulah lahir gagasan menggabungkan boneka dan media flanel dengan teknologi digital sehingga tercipta pengalaman belajar yang lebih menarik sekaligus mudah dipahami.

Flanecos-AR, media pembelajaran berbasis flanel dan Augmented Reality (AR) untuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), memasuki tahapan penting dalam proses pengembangannya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Sesi 2 : Mudianto, S.Pd., M.M

Pada sesi kedua peserta memperoleh wawasan mengenai arah kebijakan pendidikan inklusif yang disampaikan oleh Mudianto, S.Pd., M.M selaku Kabid PK-PLK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Materi tersebut menekankan pentingnya menghadirkan layanan pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus. Guru tidak lagi hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu memilih strategi dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna.

Flanecos-AR, media pembelajaran berbasis flanel dan Augmented Reality (AR) untuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), memasuki tahapan penting dalam proses pengembangannya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Sesi 3 : Demo Flanecos-AR

Disesi ketiga adalah demo pemanfaatan produk Flanecos-AR yang dipandu oleh Setya Putri Erdiana, ST., M.Ds. dosen Prodi S1 Desain Komunikasi Visual dan dibantu oleh 3 mahasiswa dari Prodi DKV Tegar Prasetyo, Haekal Rahmami Loka Jaya  dan Mochamad Rizki Ramadhan. Setya menyampaikan bahwa Flanecos-AR dirancang sebagai media pembelajaran ekosistem yang memadukan objek fisik berupa boneka dari bahan flanel, kartu pembelajaran yang memuat QR Code yang akan menampilkan konten Augmented Reality ketika dipindai menggunakan perangkat digital. Kombinasi media nyata dan digital tersebut diharapkan mampu membantu anak ADHD belajar melalui pengalaman yang lebih konkret, interaktif, dan menyenangkan. Setya menegaskan bahwa penelitian belum berhenti pada tahap pengembangan produk. Justru masukan dari pengguna menjadi bagian yang sangat menentukan keberhasilan inovasi tersebut.

Flanecos-AR, media pembelajaran berbasis flanel dan Augmented Reality (AR) untuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), memasuki tahapan penting dalam proses pengembangannya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Semangat itulah yang mewarnai jalannya Focus Group Discussion. Para peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru SLB, praktisi pendidikan, dan perwakilan lembaga pendidikan memberikan berbagai masukan mengenai desain media, keamanan penggunaan, alur pembelajaran, kemudahan implementasi di kelas, hingga penyusunan panduan penggunaan bagi guru. Seluruh masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan produk sebelum memasuki tahap validasi dan uji coba berikutnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Dinamika, Tri Sagirani, S.Kom., M.MT., menyampaikan apresiasinya terhadap semangat penelitian yang terus tumbuh di lingkungan dosen PTI. Menurutnya, budaya riset perlu terus dipelihara karena menjadi salah satu cara perguruan tinggi menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan di masyarakat.

Tri menilai kolaborasi yang terjalin dalam penelitian ini menjadi kekuatan tersendiri. Keterlibatan dosen dari berbagai bidang ilmu, mahasiswa, pemerintah, hingga praktisi pendidikan menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri.

“Media pembelajaran yang baik lahir dari proses mendengarkan. Peneliti menghadirkan gagasan, guru memberikan pengalaman lapangan, pemerintah memberikan arah kebijakan, dan semuanya bertemu dalam satu tujuan, yaitu menghadirkan pembelajaran yang lebih baik bagi peserta didik,” ujarnya.

Ia juga berharap semangat penelitian yang ditunjukkan tim dosen PTI dapat menjadi inspirasi bagi rekan sejawat maupun mahasiswa untuk terus menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, riset tidak seharusnya berhenti menjadi laporan atau artikel ilmiah, tetapi perlu berkembang menjadi solusi yang benar-benar dapat digunakan oleh dunia pendidikan.

Flanecos-AR, media pembelajaran berbasis flanel dan Augmented Reality (AR) untuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), memasuki tahapan penting dalam proses pengembangannya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Diakhir sesi, kegiatan FGD ditutup oleh Prof Bambang selaku Ketua Tim Peneliti dengan menyampaikan pesan mendalam untuk seluruh peserta FGD.

“Media pembelajaran yang baik bukan hanya bagus menurut peneliti, tetapi juga harus sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa serta mudah diterapkan di kelas. Karena itu kami sangat berterimakasih untuk semua masukan yang telah diberikan oleh Ibu Bapak yang hadir dalam FGD ini” jelasnya.

Bagi tim peneliti, FGD bukanlah akhir dari sebuah penelitian, melainkan awal dari proses penyempurnaan sebuah inovasi. Sebab media pembelajaran terbaik bukan hanya lahir dari laboratorium, tetapi juga dari kesediaan peneliti untuk mendengarkan suara guru, kepala sekolah, pemerintah, dan seluruh pihak yang setiap hari membersamai peserta didik di ruang-ruang belajar. Semangat kolaborasi inilah yang diharapkan mampu menghadirkan Flanecos-AR sebagai media pembelajaran yang tidak hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga benar-benar relevan bagi kebutuhan pendidikan inklusif di Indonesia. (Ran)

Post Views : 101 View
Scroll to Top