Pembelajaran coding tidak cukup hanya mengajarkan siswa bagaimana menulis kode. Lebih dari itu, siswa perlu belajar bagaimana memahami masalah, menyusun langkah penyelesaian, berpikir logis, dan menemukan solusi secara sistematis. Gagasan inilah yang menjadi perhatian tim peneliti dosen Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Universitas Dinamika melalui Focus Group Discussion (FGD) Cocothink: Designing the Future of Coding Learning, yang digelar Kamis, 13 Agustus 2026, di Cleo Hotel Jemursari Surabaya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari penelitian “Cocothink: Pemodelan Framework Laravel menggunakan Greenfoot untuk Pembelajaran Koding dan Berpikir Komputasional Berbasis Gamifikasi”. Penelitian ini terlaksana dengan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, dan bertujuan menghasilkan pemodelan platform Cocothink untuk pembelajaran coding berbasis gamifikasi yang aplikatif bagi siswa dan remaja, baik di lingkungan sekolah maupun komunitas belajar coding. Penelitian menggunakan pendekatan Design Thinking dan dilaksanakan pada Mei–Desember 2026. Penelitian ini dipimpin oleh Tri Sagirani, S.Kom., M.MT., bersama tim peneliti Prof. Dr. Bambang Hariadi, M.Pd., Panca Rahardiyanto, S.Kom., M.MT., Muhammad Risa Fahmi, S.Kom., M.Pd., Wawan Wahyudi Efendi, M.Pd., Dionisius Nanda Priyadi, dan Atika Ilma Yani.

FGD menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena tim peneliti tidak ingin merancang Cocothink hanya berdasarkan sudut pandang pengembang teknologi. Masukan dari guru, siswa, komunitas, dan praktisi dibutuhkan agar model yang dikembangkan benar-benar berangkat dari kebutuhan pembelajaran coding di lapangan. Dalam undangan kegiatan, FGD memang dirancang untuk menggali tantangan, kebutuhan, dan harapan pembelajaran coding pada berbagai jenjang pendidikan, baik formal maupun nonformal, sekaligus memperoleh masukan terhadap rancangan Conceptual Model dan Minimum Viable Product (MVP) Cocothink.
Mempertemukan Sekolah, Siswa, Guru, dan Komunitas Coding
Menariknya, FGD Cocothink menghadirkan peserta dari berbagai latar belakang. Dalam daftar undangan terdapat siswa dan guru dari beberapa sekolah, Ketua MGMP Informatika SMA Kota Surabaya, HMSI Universitas Dinamika, Aliria Tech Community, serta Yayasan Andus Edukasi Indonesia. Komposisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran coding dipandang sebagai kebutuhan bersama, bukan hanya urusan sekolah atau perguruan tinggi.
Kehadiran siswa menjadi bagian yang penting karena suara siswa dapat memberikan gambaran langsung tentang bagaimana pembelajaran coding dirasakan oleh mereka. Sementara itu, kehadiran guru dan komunitas memberikan perspektif mengenai kebutuhan pembelajaran, pendampingan, serta perkembangan teknologi yang terjadi di luar lingkungan sekolah.
Dengan mempertemukan berbagai perspektif tersebut, Cocothink diarahkan untuk menjadi model pembelajaran yang tidak hanya menarik dari sisi teknologi, tetapi juga relevan dengan pengalaman belajar penggunanya.
Dari Computational Thinking hingga Vibe Coding
FGD menghadirkan dua sesi utama yang memberikan perspektif berbeda tetapi saling melengkapi.
Sesi pertama menghadirkan Ratih Fahayana, S.Pd., Gr., M.T., CT, Ketua MGMP Informatika SMA Kota Surabaya, dengan materi “The Importance of Computational Thinking”. Materi tersebut menghubungkan pembelajaran coding, peran guru, serta praktik baik pengalaman pendidik di SMAN 5 Surabaya.

Pesan penting yang dibawa dalam materi ini adalah bahwa belajar coding bukan semata-mata tentang kemampuan mengetik program. Coding perlu menjadi sarana untuk membangun cara berpikir. Siswa belajar memecah persoalan, mengenali pola, menyusun langkah, dan mencari solusi.
Hal ini sejalan dengan semangat Cocothink yang menempatkan berpikir komputasional sebagai salah satu bagian penting dalam pembelajaran coding berbasis gamifikasi.
Sementara itu, sesi kedua menghadirkan Dionisius Nanda Priyadi, Koordinator Aliria Tech Community, dengan materi “Vibe Coding: The Future of Coding Learning”. Materi memperkenalkan bagaimana perkembangan teknologi dan AI mulai membuka cara baru dalam membuat prototype dan aplikasi. Dalam materi tersebut diperkenalkan sejumlah tools yang digunakan untuk membuat prototype, mockup, hingga aplikasi website, mobile, dan desktop.

Perspektif ini menjadi menarik karena dunia coding terus berubah. Jika dahulu belajar pemrograman sangat identik dengan menulis kode baris demi baris, kini teknologi AI dapat membantu proses eksplorasi ide, pembuatan prototype, hingga pengembangan aplikasi.
Namun, justru di tengah kemudahan tersebut, kemampuan berpikir menjadi semakin penting.
Seperti pesan yang ditampilkan dalam materi FGD, programmer yang baik bukanlah mereka yang sekadar paling cepat menulis kode, tetapi mereka yang mampu mengubah masalah yang rumit menjadi solusi yang sederhana dan sistematis.
Cocothink Tidak Sekadar Membuat Anak Bisa Coding
Di sinilah arah penelitian Cocothink menjadi penting. Tim peneliti dosen S1 PTI Universitas Dinamika tidak hanya ingin menghasilkan sebuah produk teknologi. Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan model pengembangan media pembelajaran coding berbasis gamifikasi yang dapat digunakan oleh siswa dan remaja di sekolah maupun komunitas belajar coding.
Pendekatan Design Thinking yang digunakan dalam penelitian juga menunjukkan bahwa model tersebut dikembangkan melalui proses memahami kebutuhan pengguna, mendefinisikan persoalan, menghasilkan ide, membuat prototype, dan mengujinya.
Dalam pemaparan perjalanan penelitian, tim menunjukkan tahapan dari Framework Laravel, Greenfoot, Conceptual Framework hingga Model Cocothink dan MVP Cocothink. Bahkan, pengembangan MVP telah memasuki beberapa versi sebagai bagian dari proses penyempurnaan model.

Karena itu, FGD bukan sekadar acara untuk mempresentasikan hasil sementara. FGD menjadi ruang untuk menguji gagasan tersebut melalui pandangan orang-orang yang nantinya bersentuhan langsung dengan pembelajaran coding.
Dampaknya Diharapkan Dirasakan Siswa dan Komunitas
Bagi siswa, Cocothink diharapkan dapat menghadirkan pengalaman belajar coding yang lebih dekat dengan dunia mereka. Unsur gamifikasi dapat membuat proses belajar terasa lebih seperti tantangan yang perlu diselesaikan daripada sekadar tugas pemrograman.
Yang lebih penting, siswa tidak hanya diarahkan untuk mendapatkan jawaban benar, tetapi belajar bagaimana berpikir untuk menemukan jawaban tersebut.
Bagi komunitas belajar coding, model ini juga membuka peluang untuk menghadirkan pola belajar yang lebih terstruktur, menarik, dan mudah dikembangkan sesuai kebutuhan anggota komunitas. Dengan demikian, pembelajaran coding tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Ia dapat tumbuh melalui komunitas, kegiatan belajar bersama, dan ruang-ruang eksplorasi teknologi.

Harapannya, siswa dan anggota komunitas tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka dapat tumbuh menjadi orang-orang yang mampu memahami masalah, merancang solusi, dan menciptakan sesuatu dengan teknologi.
“Melalui FGD ini, kami ingin memastikan bahwa Cocothink tidak hanya menjadi sebuah produk teknologi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan pembelajaran coding dan berpikir komputasional yang ada di lapangan. Masukan dari guru, siswa, komunitas, dan seluruh peserta menjadi bagian penting untuk menyempurnakan pengembangan Cocothink ke tahap berikutnya,” ujar Tri Sagirani, S.Kom., M.MT., Ketua Peneliti Cocothink.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh narasumber, sekolah, guru, siswa, komunitas, serta semua pihak yang telah hadir, memberikan masukan, dan berkontribusi dalam pelaksanaan FGD.
“Semoga kolaborasi dan kontribusi yang diberikan hari ini dapat menjadi langkah bersama untuk menghadirkan pengalaman belajar coding yang lebih menarik, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda.”
Penelitian Dosen PTI yang Berangkat dari Kebutuhan Nyata
Bagi Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Dinamika, penelitian Cocothink juga memperlihatkan bagaimana pendidikan dan teknologi dapat berjalan bersama.
Penelitian ini berada tepat di persimpangan dua kebutuhan: bagaimana teknologi dikembangkan dan bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk membuat manusia belajar dengan lebih baik.
Karena itu, keterlibatan dosen PTI dalam penelitian seperti Cocothink memiliki arti penting. Dosen tidak hanya mengembangkan pengetahuan melalui penelitian, tetapi juga membawa persoalan nyata dalam pendidikan ke dalam proses pengembangan teknologi.
FGD yang mempertemukan guru, siswa, komunitas, dan tim peneliti menjadi salah satu bentuk nyata dari proses tersebut. Ide penelitian diuji melalui pengalaman pengguna, sementara pengalaman pengguna diterjemahkan kembali menjadi masukan bagi pengembangan model.

Pada akhirnya, Cocothink diharapkan bukan hanya menjadi sebuah model atau prototype teknologi. Lebih jauh, penelitian ini ingin berkontribusi pada lahirnya pengalaman belajar coding yang membuat siswa berani mencoba, senang memecahkan masalah, dan percaya bahwa teknologi dapat mereka gunakan untuk menciptakan solusi.
Sebab, belajar coding pada akhirnya bukan hanya tentang membuat program berjalan.
Belajar coding adalah belajar berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan cara baru untuk menyelesaikan masalah.
Dan melalui Cocothink, tim dosen S1 Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Dinamika berupaya membuat proses itu menjadi lebih dekat, lebih menyenangkan, dan lebih bermakna bagi generasi muda.
Kegiatan FGD dan penelitian Cocothink ini juga mendukung beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan diantaranya SDG 4, 9, 10 dan 17. SDG 4 – Quality Education: mendorong inovasi pembelajaran coding dan berpikir komputasional yang lebih aplikatif. SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure: mengembangkan inovasi teknologi dan model pembelajaran digital. SDG 10 – Reduced Inequalities: memperluas kesempatan belajar coding tidak hanya di sekolah, tetapi juga melalui komunitas belajar. SDG 17 – Partnerships for the Goals: mempertemukan perguruan tinggi, sekolah, guru, siswa, dan komunitas dalam pengembangan solusi pendidikan.
Dengan demikian, FGD Cocothink menjadi lebih dari sekadar agenda penelitian. Ia menjadi ruang kolaborasi untuk mendengarkan kebutuhan pengguna sebelum sebuah inovasi pendidikan benar-benar dilahirkan. (Ran)